Jumat, 07 Juni 2013

Telematika Dakwah IAIN Ambon

Pasca konflik tahun 1999 peta dakwah Muhammadiyah di kota Ambon mengalami perubahan. Perubahan ini terjadi akibat adanya segregasi permukiman antara komunitas Islam dan Kristen. Segregasi tersebut memainkan peran penting dalam peningkatan human resource dan source credibility mubalig Muhammadiyah,   terutama dalam hal kompetensi menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengolah, mengemas, dan menyebarkan informasi dakwah di tengah masyarakat. Peningkatan kredibilitas dan kompetensi dalam mendesain materi dakwah merupakan persoalan yang sangat krusial bagi mubalig Muhammadiyah di kota Ambon. Lemahnya kredibilitas dan kompetensi mubalig dapat berdampak pada kurang maksimalnya daya serap mad’u, sehingga sebagian besar anggota masyarakat di kota Ambon belum membudayakan agama sebagai panduan dalam menjalankan pola hidup yang sehat secara kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Menurut Budi Raharjo, para mubalig Muhammadiyah perlu memberi perhatian serius pada penggunaan teknologi informasi dalam mendesain dan mempersiapkan materi dakwah. Hal ini bertujuan untuk memudahkan proses transformasi dakwah dalam masyarakat.[1] Secara global, imperialisme budaya Eropa telah berhasil mendominasi Dunia Timur melalui teknologi komunikasi canggih yang mudah diakses.  Melalui teori uses and gratification, Elihu, Jay G. Blumer dan Michael Gurenvich, berpendapat bahwa media mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan manusia dalam hal komunikasi massa.[2] Media ini dapat digunakan oleh mubalig Muhammadiyah untuk mendesain materi dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Ambon.
Para mubalig Muhammadiyah di kota Ambon perlu memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya komputer grafis, dalam mendesain dan menyebarkan pesan-pesan dakwah. Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah perlu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menegakkan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar. Mengingat kebutuhan dan motivasi masyarakat yang sangat beragam, diperlukan kreativitas dan inovasi dalam mendesain informasi dakwah yang akan disampaikan kepada mereka. Hal ini sejalan dengan teori use and gratification yang memandang bahwa manusia menerima informasi berdasarkan kebutuhan hidupnya.
Teori yang dikembangkan oleh Steven M. Chafee, Wilhoit, dan Harol de Block pada Tahun 1980 itu, dan dikutip oleh Jalaluddin Rahmat, mengungkapkan bahwa mad’u akan menerima dan menyerap informasi yang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhannya.[3] Untuk memenuhi kebutuhan mad’u  akan informasi amar ma’ruf nahi mungkar, para mubalig perlu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi sebagai perpanjangan dari panca indra.
Para mubalig Muhammadiyah harus kompeten dalam menggunakan media komunikasi guna memaksimalkan daya serap mad’u; agar pesan-pesan agama yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah dapat diterima dengan baik. Dengan menggunakan software dan hardware  tertentu, para mubalig dapat mengolah data dakwah dengan mudah dan efektif, dan menuangkannya dalam bentuk silabi interaktif.
Sebagaimana diketahui, teknologi informasi memiliki dua unsur utama: software dan hardware. Menurut R.S. Presman, dalam tren media digital, software dan hardware  memainkan peran strategis dalam proses pengolahan data audio, visual, dan teks, sehingga lebih mudah dicerna oleh otak manusia.[4] Hal ini sejalan dengan pandangan Hendi Hendratman yang menyatakan bahwa fasilitas teknologi komputer grafis yang memiliki kemampuan converter ide atau gagasan menjadi realitas, telah menguasai media broadcasting.[5] Dengan ditunjang kredibilitas dan komunikasi empatik, para mubalig perlu memanfaatkan teknologi informasi dalam mengemas dan menyampaikan pesan-pesan keagamaan.
Pandangan ini juga diamini oleh Carles Babbage. Dia mengatakan bahwa teknologi komputer grafis memiliki software canggih yang dapat digunakan oleh media untuk mendesain dan mencitrakan pesan (informasi) agar bisa diakses dengan cepat dan akurat.[6] Instrumen teknologi informasi tersebut perlu dimanfaatkan oleh para mubalig sebagai perpanjangan dari panca indra untuk mentransformasikan pesan-pesan al-Qur’an dan Sunnah di tengah-tengah masyarakat yang sedang dibanjiri informasi yang dikonstruksi oleh media imperialisme global.
Konstruksi media global tersebut menyediakan berbagai macam informasi yang berhubungan dengan fun, food, dan  fashion. Fenomena ini menjadi tantangan berat bagi teknologi informasi dakwah.[7] Jika dibandingkan dengan fasilitas teknologi media global, kondisi teknologi informasi dakwah masih sangat memprihatinkan. Kelemahan ini telah dibahas dalam tanfiz} keputusan muktamar satu abad Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta: 20-25 Rajab 1431/3-8, Juli tahun 2010. Hasil keputusan tersebut menegaskan bahwa dominasi publikasi media barat telah banyak merusak kultur bangsa Indonesia.[8] Hal ini membutuhkan kajian ilmiah mengenai peran teknologi informasi di kalangan mubalig Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah sebagai spirit pencerahan peradaban.
Aktivitas dakwah Muhammadiyah yang diwujudkan dalam bentuk pendidikan, rumah sakit, dan masjid, dibahas secara umum dalam muktamar tersebut, tetapi belum ditentukan jenis teknologi terapan yang akan digunakan para mubalig dalam mengkomunikasikan pesan-pesan dakwah di daerah.[9] Atas dasar inilah diperlukan standarisasi teknologi dakwah yang dapat dijadikan rujukan oleh para mubalig Muhammadiyah di daerah-daerah, khususnya di kota Ambon, yang sesuai dengan kondisi kepulauan di Provinsi Maluku. Dalam hal ini, diperlukan jenis teknologi dakwah yang sesuai dengan daya nalar masyarakat kepulauan. Di samping itu, diperlukan pula telaah ilmiah mengenai kompetensi mubalig Muhammadiyah dalam melakukan komunikasi empatik dan partisipatoris.
Karena pentingnya menelaah standar teknologi informasi dakwah dan kompetensi mubalig dalam memanfaatkannya, maka diperlukan kajian dan analisa mendalam mengenai teknologi informasi yang digunakan oleh mubalig Muhammadiyah sebagai penunjang dakwah di tengah-tengah masyarakat Ambon. Teknologi dakwah berperan sebagai pendukung panca indra mubalig dalam mengkomunikasikan pesan-pesan Al-Quran dan Sunnah. Menurut Qasim Mathar, seorang mubalig perlu memiliki kecerdasan dalam membahasakan dan mengkomunikasikan pesan agama sesuai dengan daya nalar mad’u guna merawat, menjaga, dan melestarikan pola kehidupan yang harmonis.[10] Kecerdasan dan kecakapan ini bisa direalisasikan jika ditunjang dengan teknologi informasi.
Menurut penulis, gagasan Qasim  Mathar ini sulit terwujud jika mubalig tidak menggunakan teknologi informasi sebagai penunjang dalam menjalankan aktivitas tablig. Sampai saat ini, majelis tablig Muhammdiyah di kota Ambon belum memaksimalkan penggunaan fasilitas teknologi informasi dan komunikasi dalam mendesain dan menyebarkan pesan-pesan dakwah. Ketersediaan informasi dakwah yang komunikatif dan mudah diakses oleh masyarakat sangat tergantung pada jenis fasilitas teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan oleh mubalig Muhammadiyah.
Menurut Usman Jasad, lembaga dakwah Muhammadiyah masih perlu mengembangkan dan memaksimalkan metode dakwah komunikatif dalam menghadapi berbagai problematika sosial.[11] Tentu saja gagasan ini tidak akan terwujud tanpa ditunjang oleh fasilitas teknologi informasi dan komunikasi.
Namun demikian, fasilitas teknologi informasi dan komunikasi saja belum memadai untuk menghadapi gempuran informasi yang dilancarkan oleh media global; kemasan informasi dan penyampaiannya harus dilandasi pula dengan asas empati dan bersifat partisipatoris.  Untuk menghasilkan publikasi dakwah yang efektif, unsur-unsur ini harus saling menunjang dan melengkapi.
Intinya, teknologi informasi dan komunikasi sangat dibutuhkan dalam menjalankan aktivitas dakwah. Hal ini telah dibuktikan oleh kemampuan media global dalam membentuk karakter masyarakat dunia dan membawa perubahan sosial melalui pengolahan, penyajian, dan visualisasi data yang mudah diakses oleh masyarakat, baik dalam bentuk cetak maupun elektronik.[12] Efektifitas teknologi informasi dan komunikasi ini perlu dimanfaatkan oleh para mubalig dalam mengolah dan mentransformasikan nilai-nilai agama di tengah-tengah masyarakat.
Hal ini senada dengan paradigma Natsir Mahmud yang menyatakan bahwa ilmu dakwah semestinya menekankan profesionalime dan kecanggihan proses transformasi pesan-pesan keagamaan.[13] Menurut hemat penulis, argumentasi Natsir ini bisa menjadi pijakan filosofis strategis untuk memperkuat sub-teknologi informasi dakwah, khususnya pengembangan fasilitas teknologi media dakwah dan komunikasi Islam.  
Sebagai organisasi dakwah, Muhammadiyah diharapkan tidak terpenjara oleh monomedia (satu media) saja dalam mengkomunikasikan pesan-pesan al-Qur’an dan Sunnah, bahkan perlu mendayagunakan kecanggihan teknologi multimedia interaktif agar daya serap mad’u menjadi lebih efektif.
Sampai saat ini, gerakan dakwah Muhammadiyah tampaknya belum memanfaatkan teknologi informasi dakwah secara signifikan, sehingga perlu dilakukan riset ilmiah mengenai kompetensi para mubalig dalam menggunakannya. Hal ini perlu dikaji secara ilmiah untuk mengungkap penyebab kurang berkembangnya unsur-unsur teknologi dan sub-teknologi dalam organisasi Muhammadiyah di kota Ambon. Selain itu, perlu juga dikaji  tentang media publikasi dakwah yang paling efektif sehingga pesan-pesan dan nilai-nilai agama dapat memengaruhi perilaku masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anggota Muhammadiyah di kota Ambon berjumlah kurang-lebih 1322 orang. Permasalahannya adalah seberapa jauh Muhammadiyah bisa berperan sebagai spirit pencerahan dalam kehidupan para anggotanya.
Kajian ini akan menelaah dan menyelidiki kompetensi mubalig Muhammadiyah dan fasilitas teknologi  informasi yang digunakannya, khususnya sub-teknologi yang digunakan dalam publikasi dakwah di kota Ambon. Pemilihan sub-teknologi dari teknologi informasi ini berdasarkan teori media McLuhan yang menyatakan bahwa media merupakan perpanjangan dari panca indra manusia.[14] Oleh karena itu, kompetensi mubalig Muhammadiyah dalam menggunakan media teknologi informasi menarik untuk diteliti.
Dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang paling mutakhir, desain publikasi informasi dakwah akan lebih efektif dan menarik. Teknologi informasi dan komunikasi juga memiliki daya jangkau yang lebih signifikan dalam penyampaian dakwah. Di antara unsur-unsur penting dari teknologi informasi yang akan diteliti adalah infrastruktur sub-teknologi seperti SDM mubalig, sub-teknologi software dan sub-teknologi hardware, yang merupakan pilar teknologi informasi dakwah Muhammadiyah di kota Ambon.
Secara umum, teknologi informasi dakwah Muhammadiyah bisa dinilai berjalan dengan baik jika ia mampu beradaptasi dengan setting sosial masyarakat multikultural, dan mampu menerapkan teknologi dakwah dengan mengacu pada pendekatan komunikasi empatik, partisipatoris, dan memanfaatkan sumber daya ICT (Information Communication Technology) serta strategi publikasi dakwah.[15] Untuk menelaah persoalan ini perlu digambarkan kondisi realitas masyarakat dan teknologi informasi dakwah Muhammadiyah di kota Ambon. Pada kenyataannya, gerakan dakwah Muhammadiyah dengan pelbagai problematika sosial yang dihadapinya, tidak seimbang dengan kekuatan sub-teknologi informasi dakwah Muhammadiyah di kota Ambon.
Di antara tantangan dakwah yang dihadapi Muhammadiyah di kota Ambon adalah tidak seimbangnya antara luas wilayah dan infrastruktur media yang dimiliki. Selain itu, jumlah penduduk yang mencapai 332.000 jiwa juga merupakan tantangan tersendiri, di mana setiap individu membutuhkan penyajian informasi dan eskpresi yang berbeda-beda. Kenyataan ini sejalan dengan kajian Sattu Alang yang berjudul Kesehatan Jiwa. Pada bagian pendahuluan, Sattu Alang menjelaskan bahwa dengan mencermati kondisi masyarakat melalui fenomena kehidupan manusia, akan dijumpai model dan corak ekspresi yang tampak pada tepian lisan dan tepian perilaku. Ada yang kelihatan bergembira, murung, pesimis, gelisah, bersedih hati, dan tidak cocok dengan orang lain.[16] Fenomena ini kerap kali dipicu oleh gesekan politik, isu, dan konflik, yang pada gilirannya menambah lembaran permasalahan sosial yang dihadapi  manusia modern.
Permasalahan sosial ini kerap mengganggu interaksi sosial masyarakat dan menjadi tantangan berat bagi mubalig Muhammadiyah di kota Ambon.[17] Selain itu, media pemerintah seperti TVRI (Televisi Republik Indonesia) tak mampu bersaing dengan media swasta-kapitalis, yang sering kali menyampaikan berita-berita dan informasi yang dapat merusak karakter dan perilaku masyarakat di kota Ambon. Begitu pula dengan media cetak yang 80% kontennya bermuatan politik.[18] Jika konstruksi informasi ini tidak diimbangi dengan teknologi informasi dakwah yang handal, maka ia dapat menimbulkan kerusakan moral dalam masyarakat, dan mengganggu ketenteraman sosial-keagamaan di kota Ambon.
Jumlah penduduk dan angka pertumbuhan penduduk di kota Ambon tidak sebanding dengan ketersediaan ekonomi dan informasi agama yang bisa mengarahkan dan membentuk pola hidup masyarakat. Pada tahun 2010, jumlah penduduk di kota Ambon mencapai 284.809 jiwa.[19] Pertumbuhan penduduk yang tidak dibarengi dengan kesadaran beragama dapat menimbulkan berbagai problematika sosial.
Problematika sosial ini bisa menambah angka pengangguran dan kemiskinan, menimbulkan ketidakstabilan politik, kekacauan budaya, dan pudarnya nilai-nilai agama dalam kehidupan bermasyarakat. Kondisi ini akan menciptakan kesenjangan sosial, prejudice, stereotype, dan eksploitasi agama untuk memprovokasi konflik, baik konflik antar agama, antar kelompok, antar etnis, dan menghidupkan gerakan separatisme RMS. Kesenjangan ini juga akan menyebabkan maraknya perbuatan makar, meningkatnya tindak kriminal, dan kecenderungan menyelesaikan permasalahan dengan kekerasan fisik dan psikis. Hal ini dibahas dalam laporan BARESKRIM POLDA Maluku yang dilansir Harian Ambon Ekspres, yang menunjukkan bahwa benturan fisik di kota Ambon meningkat. Benturan fisik akibat kesenjangan ekonomi yang tidak dikendalikan oleh kesadaran beragama telah menyebabkan terjadinya insiden Rohmoni (Mei 2004) antara Rohmoni dan Kailolo,(7); insiden Mamala dan Hitu (November 2006) (8).[20] Benturan fisik yang terjadi pada tanggal 13 September 2001 juga dipicu oleh publikasi informasi provokatif yang berakibat pembakaran rumah warga.
Selain itu, pembunuhan sesama warga muslim yang terjadi di Pelauw juga diakibatkan oleh perbedaan dalam penetapan awal bulan Syawal tahun 2011. Dalam peristiwa ini, 100 rumah warga dibakar.[21] Menurut hemat penulis, semua ini diakibatkan oleh lemahnya pemahaman keagamaan sebagai spirit pencerahan dalam memperbaiki tatanan kehidupan ummat. Di samping itu, alih-alih menjadi media pendidikan, media cetak di Ambon justru cenderung menjadi media provokasi. Kondisi ini semakin diperparah oleh kenyataan bahwa sebagian besar mubalig Muhammadiyah belum atau kurang mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi, khususnya komputer grafis, dalam mengolah pesan-pesan dakwah, bahkan masih cenderung menuangkan materi-materi dakwah pada kertas biasa (kwarto).
Sebagian besar mubalig Muhammadiyah belum memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan dakwah, khususnya fasilitas digital seperti e-book, al-Quran digital, maktabah syamila, maktaba qubro, dan sarana-sarana digital lainnya. Jika penggunaan fasilitas teknologi informasi masih kurang memadai, maka kompetensi mubalig Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah akan kurang maksimal. Hal ini akan membuka jalan dan memudahkan dominasi informasi dari dunia barat lewat internet, televisi, radio, dan media cetak. Akibatnya, informasi negatif pun menguasai dan membentuk alam pikiran masyarakat di kota Ambon. Atas dasar inilah diperlukan riset ilmiah untuk mengungkap sejauh mana mubalig Muhammadiyah mampu memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan aktivitas dakwah mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dengan meningkatnya penggunaan teknologi informasi dalam menyampaikan pesan-pesan agama, maka daya serap mad’u akan meningkat pula.


A.    Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
Karena luasnya cakupan permasalahan tersebut, maka kajian ini secara spesifik menelaah penggunaan teknologi informasi oleh para mubalig Muhammadiyah di kota Ambon sebagai perpanjangan panca indra. Agar batasan masalah tersebut lebih menukik, penulis membagi rumusan masalah ke dalam dua sub-masalah, yaitu:
1.      Bagaimana tingkat kompetensi mubalig Muhammadiyah di kota Ambon?
2.      Bagaimana peran mubalig Muhammadiyah memanfaatkan teknologi informasi di Ambon?



[1]Budi Raharjo, Memahami Teknologi Informasi: Menyikapi dan Membekali Diri Terhadap Peluang dan Tantangan Teknologi Informasi (Cet. I; Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2002), h. 1
[2]Jalaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi (Cet. XXII;  Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), h. 206.
[3]Ibid
[4]R.S Presman, Software Engineering: A. Pratitioner’s Approach (Longman Inc USA: The MeGrow-Hill, 1997),  h. 39. Lihat dalam system Informasi dalam berbagai Aspek yang diterbitkan oleh Informatika 2006, h. 19
[5]Hendi Hendratman,  The magic of Premiere dan Adobe After Effects: Video, Audio, Animation, Visual effects, Capturing (Cet. II; Bandung: Informatika, 2007), h. 7. 
[6]Carles Babbage, Computer Graphic (Inggris pada tahun 1836) diterjemahkan oleh: Salemba Humanika dengan judul: Komputer grafis: Mekanis Mendesain Pesan-Pesan Digital (Cet. I; Jakarta: Salemba Humanika, 2009), h.i
[7]John Tompson, Ideology and Modern Culture: Critical Social theory in the  Era of  Mass Communication  (Stanford University Press, California, 1990) diterjemahkan oleh Haqqul Yakin at.all dengan judul Kritik  Ideologi Global: Teori Sosial Kritik tentang Relasi Ideologi dan Komunikasi Massa (Cet. I; Jakarta: IRCISoD, 2004), h. 5.
[8]Radar Pancadharma (Budayawan), Dominasi Budaya Media Barat dalam Konten Penyiaran di Indonesia, (Jakarta: TVRI Senin, 7 Mei 2012 pukul 11: 30 wit.
[9]Tanfiz Keputusan Muktamar Satu Abat Muhammadiyah; Muktamar Muhammadiyah ke-46 Yogyakarta: 20-25 Rajab 1431 / 3-8 Juli 2010 ( Pimpinan Pusat Muhammadiyah), h. 168
[10]H. Moch. Qasim Mathar (Mantan ASDIR I bidang akademik PASCASARJANA UIN Alauddin Makassar), Pertemuan dialog agama-agama  untuk merawat, menjaga, dan melestarikan kerukunan umat beragama, di ruang promosi PASCASARJANA,7 Pebruari 2011. 
[11]Usman Jasad, Mencegah Radikalisme Agama: Dakwah Komunikatif Muhammadiyah di Sulawesi Selatan (Jakarta: UIN Jakarta,  2010), h. 17.
[12]H. Moch. Qasim Mathar (Mantan ASDIR  bidang akademik PASCASARJANA UIN Alauddin Makassar), Masukan saat seminar hasil  sistem informasi dakwah Muhammadiyah di ruang seminar  PASCASARJANA, 7 Maret 2012.
[13]Natsir Mahmud, Bunga Rampai Epistemologi dan Metode Studi Islam (Cet.I; IAIN Alauddin Press, 1998), h. 39. 
[14]Marshal McLuhan, Understanding Media: The Extensions of Man (New York: McGrw Company, 1964). Dalam Anwar Arifin, Komunikasi Politik: Paradigma Teori Aplikasi, Strategi Dan Komunikasi Politik Indonesia (Cet. I; PT. Balai Pustaka, 2003), h. 93.
[15]Ibid
[16]H.M. Sattu Alang, Kesehatan  Mental  dan  Terapi  Islam (Cet. II; Makassar, Berkah Utami, 2005), h. 1.
[17]Badan Pusat Statistik (BPS) Privinsi Maluku (BPS),  Maluku dalam Angka,  Diterbitkan oleh / Published by : BPS Provinsi Maluku  BPS – Statisttic Provinsi Maluku.  h. 51.
[18]Bambang Haryamukti (Dirut Tempo) Strategi Sistem Informasi yang berbasis bhinneka Tunggal Ika di Indonesia, (Jakarta: TVRI Senin, 7 Mei 2012 pukul 11: 30 wit.
[19]Muhammad Amin Lasaiba, Pengolahan Tanah: Studi Perluasan wilayah di kota Ambon Disertasi  dipertanggungjawabkan pada tanggal 7 Pebruari 2012.
[20]Data BAREKRIM Polda Provinsi Maluku, konflik yang terjadi selama 2002 sampai 2009 yang tercatat dan dilaporkan di Polda Maluku sebagai tindak kriminal.
[21]ibid. 
















Tidak ada komentar:

Posting Komentar