WAJAH DAKWAH DALAM
TREN MEDIA DIGITAL
(Studi Analisis Peran Dakwah Muhammadiyah di daerah Pesisir Pulau Ambon)
Oleh: Syarifudin
Wajah dakwah pada tahun 1987 yang
menggunakan media sound system yang manual sampai saat ini starnya Determinisme
teknologi komunikasi dan informasi terhadap perubahan persepsi, sikap dan
perilaku masyarakat, terhadap ruang, waktu, dan batas wilayah, telah menuntut
pemikiran-pemikiran kreatif dalam perspektif Ilmu Komunikasi. Tradisi linier
dan interaktif sendiri tidak mampu menjelaskan fenomena perubahan yang
sedang terjadi pada masyarakat saat ini. Realitas komunikasi dengan intervensi
media yang semakin konvergen, tidak dapat dijelaskan hanya sekadar transmisi,
pertukaran informasi interaktif dan pola-pola komunikasi yang stagnan.
Sifat komunikasi
dengan multi arah (person to person, person to many, and many to many)
menjadi amat rumit dalam skala dimensi waktu, ruang dan batas wilayah.
Merupakan salah satu ciri dari hypercommunication era teknologi komunikasi
saat ini. Dalam satu event komunikasi orang bisa membangun ruang komunikasi
antar pribadi, dan kelompok.
Tren media digital yang dihasilkan oleh
peradaban teknologi informasi telah menghasilkan
sebuah industri baru dalam mengolah data, menyimpan, serta menyebarkannya dalam berbagai
bentuk media informasi.[1]
Dewasa ini berbagai macam proses transformasi ilmu pengetahuan, agama, seni,
dan budaya.
Tak dapat dipungkiri teknologi
informasi memiliki dua kutup, yakni kutup positif dan kutup negatif. Jika pengendali
data didominasi oleh motivasi negatif maka produksi informasi yang dihasilkan
bermuatan negatif begitupula sebaliknya. Teknologi komunikasi ini memiliki daya
jangkau dan kemampuan mengolah
data, visual, audio, dan narasi yang dapat menembus ruang dan waktu.[2]
Kemajuan ini sebagai Mubalig tidak boleh hanya menjadi pengamat tetapi perlu
memanfaatkannya sebagai alat penunjang dalam mengkomunikasikan pesan-pesan
Al-Quran dan Sunnah untuk kemaslahatan umat. Dalam sistem
informasi dakwah peran media digital sangat
strategis sebagai perpanjangan panca indra Mubalig dalam membahasakan serta mengkomunikasikan
Al-Quran dan Sunnah di tengah keragaman daya nalar mad’u.
Keragaman pemahaman membahasakan
agama hemat Qasim, Mubalig perlu memiliki kecerdasan membahasakan
agama sesuai daya nalar mad’u untuk merawat, menjaga, dan melestarikan pola kehidupan yang
harmonis.[3] Hemat penulis gagasan Qasim
ini sulit terwujud jika teknik transformasi sistem informasi dakwah
kurang memiliki media penunjang.
[1]Budi Raharjo, Memahami
Teknologi Informasi: Menyikapi dan Membekali Diri Terhadap Peluang dan
Tantangan Teknologi Informasi (Cet. I; Jakarta: PT. Elex Media Komputindo,
2002), h. 1
[2]Konferansi Nasional Sistem
Informasi, Berbagai Makalah Sistem Informasi (Yogyakarta: Informatika,
2009), h. 3
[3]Moch. H. Qasim Mathar (ASDIR I bidang akademik PASCASARJANA
UIN Alauddin Makassar), Pertemuan dialog agama-agama untuk merawat, menjaga, dan melestarikan
kerukunan umat beragama, di ruang promosi PASCASARJANA,7 Pebruari 2011 jam
10.30 wit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar