Jumat, 07 Juni 2013

Teknologi Dakwah

WAJAH  DAKWAH DALAM TREN MEDIA DIGITAL
(Studi Analisis Peran Dakwah Muhammadiyah di daerah Pesisir Pulau Ambon)
Oleh: Syarifudin

Wajah dakwah pada tahun 1987 yang menggunakan media sound system yang manual sampai saat ini starnya Determinisme teknologi komunikasi dan informasi terhadap perubahan persepsi, sikap dan perilaku masyarakat, terhadap ruang, waktu, dan batas wilayah, telah menuntut pemikiran-pemikiran kreatif dalam perspektif Ilmu Komunikasi. Tradisi linier dan interaktif sendiri tidak mampu menjelaskan fenomena perubahan yang sedang terjadi pada masyarakat saat ini. Realitas komunikasi dengan intervensi media yang semakin konvergen, tidak dapat dijelaskan hanya sekadar transmisi, pertukaran informasi interaktif dan pola-pola komunikasi yang stagnan.
Sifat komunikasi dengan multi arah (person to person, person to many, and many to many) menjadi amat rumit dalam skala dimensi waktu, ruang dan batas wilayah. Merupakan salah satu ciri dari hypercommunication era teknologi komunikasi saat ini. Dalam satu event komunikasi orang bisa membangun ruang komunikasi antar pribadi, dan kelompok.
Tren media digital yang dihasilkan oleh peradaban teknologi informasi telah menghasilkan sebuah industri baru dalam mengolah data, menyimpan, serta menyebarkannya dalam berbagai bentuk media informasi.[1] Dewasa ini berbagai macam proses transformasi ilmu pengetahuan, agama, seni, dan budaya.
Tak dapat dipungkiri teknologi informasi memiliki dua kutup, yakni kutup positif dan kutup negatif. Jika pengendali data didominasi oleh motivasi negatif maka produksi informasi yang dihasilkan bermuatan negatif begitupula sebaliknya. Teknologi komunikasi ini memiliki daya jangkau dan kemampuan mengolah data, visual, audio, dan narasi yang dapat menembus ruang dan waktu.[2] Kemajuan ini sebagai Mubalig tidak boleh hanya menjadi pengamat tetapi perlu memanfaatkannya sebagai alat penunjang dalam mengkomunikasikan pesan-pesan Al-Quran dan Sunnah untuk kemaslahatan umat. Dalam sistem informasi dakwah peran media digital sangat strategis sebagai perpanjangan panca indra Mubalig  dalam membahasakan serta mengkomunikasikan Al-Quran dan Sunnah di tengah keragaman daya nalar mad’u.
Keragaman pemahaman membahasakan agama hemat Qasim, Mubalig perlu memiliki kecerdasan membahasakan agama sesuai daya nalar mad’u untuk merawat, menjaga, dan melestarikan pola kehidupan yang harmonis.[3] Hemat penulis gagasan Qasim  ini sulit terwujud jika teknik transformasi sistem informasi dakwah kurang memiliki media penunjang. 


[1]Budi Raharjo, Memahami Teknologi Informasi: Menyikapi dan Membekali Diri Terhadap Peluang dan Tantangan Teknologi Informasi (Cet. I; Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2002), h. 1
[2]Konferansi Nasional Sistem Informasi, Berbagai Makalah Sistem Informasi (Yogyakarta: Informatika, 2009), h. 3
[3]Moch. H. Qasim Mathar (ASDIR I bidang akademik PASCASARJANA UIN Alauddin Makassar), Pertemuan dialog agama-agama  untuk merawat, menjaga, dan melestarikan kerukunan umat beragama, di ruang promosi PASCASARJANA,7 Pebruari 2011 jam 10.30 wit.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar