Pasca
konflik tahun 1999 peta
dakwah Muhammadiyah di kota Ambon
mengalami perubahan. Perubahan ini terjadi akibat adanya segregasi permukiman
antara komunitas Islam dan Kristen. Segregasi tersebut memainkan peran penting
dalam peningkatan human resource dan source credibility mubalig
Muhammadiyah, terutama dalam hal kompetensi menggunakan
teknologi informasi dan komunikasi untuk mengolah, mengemas, dan menyebarkan
informasi dakwah di tengah masyarakat. Peningkatan kredibilitas dan kompetensi dalam mendesain materi dakwah merupakan persoalan yang sangat
krusial bagi mubalig
Muhammadiyah di kota Ambon. Lemahnya kredibilitas dan kompetensi mubalig dapat berdampak
pada kurang maksimalnya daya serap mad’u, sehingga sebagian besar anggota
masyarakat di kota Ambon belum membudayakan agama sebagai panduan dalam
menjalankan pola hidup yang sehat secara kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Menurut Budi Raharjo, para mubalig
Muhammadiyah perlu memberi perhatian serius pada penggunaan teknologi informasi
dalam mendesain dan mempersiapkan materi dakwah. Hal ini bertujuan untuk
memudahkan proses transformasi dakwah dalam masyarakat.
Secara global, imperialisme budaya
Eropa telah berhasil
mendominasi Dunia Timur melalui teknologi komunikasi canggih yang mudah diakses. Melalui teori uses and gratification,
Elihu, Jay G. Blumer dan Michael Gurenvich, berpendapat bahwa media
mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan
manusia dalam hal komunikasi
massa. Media ini dapat digunakan oleh mubalig
Muhammadiyah untuk mendesain materi dakwah yang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat Ambon.
Para mubalig Muhammadiyah di kota Ambon perlu
memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya komputer
grafis, dalam mendesain dan menyebarkan pesan-pesan dakwah. Muhammadiyah
sebagai organisasi dakwah perlu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menegakkan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar.
Mengingat kebutuhan
dan motivasi masyarakat yang sangat beragam, diperlukan kreativitas dan inovasi
dalam mendesain informasi dakwah yang akan disampaikan kepada mereka. Hal ini
sejalan dengan teori use and gratification yang memandang bahwa manusia
menerima informasi berdasarkan kebutuhan hidupnya.
Teori yang dikembangkan oleh Steven M. Chafee, Wilhoit, dan Harol de Block
pada Tahun 1980 itu, dan dikutip oleh Jalaluddin Rahmat, mengungkapkan bahwa mad’u akan menerima dan menyerap
informasi yang bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhannya. Untuk memenuhi kebutuhan mad’u akan informasi amar ma’ruf nahi mungkar,
para mubalig perlu menggunakan teknologi informasi dan komunikasi
sebagai perpanjangan dari panca indra.
Para mubalig Muhammadiyah harus kompeten
dalam menggunakan media komunikasi guna memaksimalkan daya serap mad’u;
agar pesan-pesan agama yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah dapat diterima
dengan baik. Dengan menggunakan software dan hardware tertentu, para mubalig dapat mengolah
data dakwah dengan mudah dan efektif, dan menuangkannya dalam bentuk silabi
interaktif.
Sebagaimana diketahui, teknologi informasi
memiliki dua unsur utama: software dan hardware.
Menurut R.S. Presman, dalam tren media digital, software dan hardware memainkan peran strategis dalam proses pengolahan
data audio, visual, dan teks, sehingga lebih mudah dicerna
oleh otak manusia. Hal ini sejalan
dengan pandangan Hendi Hendratman yang menyatakan bahwa fasilitas teknologi
komputer grafis yang memiliki kemampuan converter ide atau gagasan menjadi
realitas, telah menguasai media broadcasting.
Dengan ditunjang kredibilitas dan komunikasi empatik, para mubalig perlu memanfaatkan
teknologi informasi dalam mengemas dan menyampaikan pesan-pesan keagamaan.
Pandangan
ini juga diamini oleh
Carles Babbage. Dia mengatakan bahwa teknologi komputer grafis memiliki software
canggih yang dapat digunakan
oleh media
untuk mendesain dan mencitrakan pesan (informasi) agar bisa diakses dengan cepat dan akurat.
Instrumen teknologi informasi
tersebut perlu
dimanfaatkan oleh para
mubalig sebagai perpanjangan dari panca indra untuk mentransformasikan
pesan-pesan al-Qur’an dan Sunnah di tengah-tengah masyarakat yang sedang
dibanjiri informasi yang dikonstruksi oleh media imperialisme global.
Konstruksi
media global tersebut menyediakan berbagai macam informasi yang berhubungan dengan fun, food, dan fashion.
Fenomena ini menjadi tantangan berat bagi teknologi informasi dakwah. Jika dibandingkan dengan fasilitas
teknologi media global, kondisi teknologi
informasi dakwah masih sangat memprihatinkan. Kelemahan ini
telah dibahas dalam tanfiz} keputusan muktamar satu abad Muhammadiyah ke-46 di Yogyakarta: 20-25 Rajab 1431/3-8, Juli tahun 2010. Hasil keputusan tersebut menegaskan
bahwa dominasi publikasi media barat telah banyak merusak kultur bangsa Indonesia. Hal ini membutuhkan kajian ilmiah mengenai peran teknologi informasi di kalangan mubalig Muhammadiyah dalam menjalankan
dakwah sebagai spirit pencerahan peradaban.
Aktivitas dakwah Muhammadiyah yang diwujudkan dalam
bentuk pendidikan, rumah sakit, dan masjid, dibahas secara umum dalam muktamar tersebut, tetapi belum ditentukan jenis teknologi
terapan yang akan digunakan para mubalig
dalam mengkomunikasikan
pesan-pesan dakwah di daerah. Atas dasar inilah diperlukan standarisasi
teknologi dakwah yang dapat dijadikan rujukan oleh para mubalig Muhammadiyah di
daerah-daerah, khususnya di kota Ambon, yang sesuai dengan kondisi kepulauan di
Provinsi Maluku. Dalam hal ini, diperlukan jenis teknologi dakwah yang sesuai
dengan daya nalar masyarakat kepulauan. Di samping itu, diperlukan pula telaah ilmiah mengenai kompetensi mubalig
Muhammadiyah dalam melakukan komunikasi empatik dan partisipatoris.
Karena
pentingnya menelaah standar teknologi informasi dakwah
dan kompetensi mubalig dalam memanfaatkannya, maka diperlukan kajian dan analisa mendalam mengenai teknologi informasi yang digunakan oleh mubalig Muhammadiyah sebagai penunjang dakwah di tengah-tengah masyarakat Ambon. Teknologi dakwah berperan
sebagai pendukung panca indra mubalig dalam mengkomunikasikan pesan-pesan
Al-Quran dan Sunnah. Menurut Qasim
Mathar, seorang mubalig perlu
memiliki kecerdasan dalam membahasakan
dan mengkomunikasikan pesan agama sesuai dengan daya nalar mad’u guna merawat, menjaga, dan melestarikan pola
kehidupan yang harmonis. Kecerdasan dan
kecakapan ini bisa direalisasikan jika ditunjang dengan teknologi informasi.
Menurut penulis, gagasan Qasim Mathar ini sulit terwujud jika mubalig tidak menggunakan teknologi informasi sebagai
penunjang dalam menjalankan aktivitas tablig. Sampai saat ini, majelis tablig
Muhammdiyah di kota Ambon belum memaksimalkan penggunaan
fasilitas teknologi informasi dan komunikasi dalam mendesain dan menyebarkan
pesan-pesan dakwah. Ketersediaan informasi
dakwah yang komunikatif dan mudah diakses oleh
masyarakat sangat tergantung pada jenis fasilitas teknologi informasi dan komunikasi
yang digunakan oleh mubalig Muhammadiyah.
Menurut Usman Jasad, lembaga dakwah
Muhammadiyah masih perlu mengembangkan dan memaksimalkan metode dakwah
komunikatif dalam menghadapi berbagai problematika sosial. Tentu saja gagasan ini
tidak akan terwujud tanpa ditunjang oleh fasilitas teknologi informasi dan
komunikasi.
Namun demikian, fasilitas teknologi informasi dan komunikasi saja belum
memadai untuk menghadapi gempuran informasi yang dilancarkan oleh media global;
kemasan informasi dan penyampaiannya harus dilandasi pula dengan asas empati
dan bersifat partisipatoris. Untuk
menghasilkan publikasi dakwah yang efektif, unsur-unsur ini harus saling
menunjang dan melengkapi.
Intinya, teknologi informasi dan komunikasi sangat
dibutuhkan dalam menjalankan aktivitas dakwah. Hal ini telah dibuktikan oleh kemampuan media global
dalam membentuk
karakter masyarakat dunia dan membawa perubahan sosial melalui pengolahan, penyajian,
dan visualisasi data yang mudah diakses oleh masyarakat, baik dalam bentuk
cetak maupun elektronik. Efektifitas
teknologi informasi dan komunikasi ini perlu dimanfaatkan oleh para mubalig
dalam mengolah dan mentransformasikan nilai-nilai agama di tengah-tengah masyarakat.
Hal ini senada dengan paradigma Natsir Mahmud yang menyatakan bahwa ilmu dakwah semestinya menekankan profesionalime dan kecanggihan proses
transformasi pesan-pesan keagamaan. Menurut hemat penulis, argumentasi
Natsir ini bisa menjadi pijakan filosofis strategis untuk memperkuat sub-teknologi
informasi dakwah, khususnya pengembangan fasilitas teknologi media dakwah dan
komunikasi Islam.
Sebagai organisasi dakwah, Muhammadiyah diharapkan
tidak terpenjara oleh monomedia (satu media) saja dalam
mengkomunikasikan pesan-pesan al-Qur’an dan Sunnah, bahkan perlu mendayagunakan
kecanggihan teknologi multimedia interaktif agar daya serap mad’u menjadi
lebih efektif.
Sampai
saat ini, gerakan dakwah Muhammadiyah tampaknya belum memanfaatkan teknologi
informasi dakwah secara signifikan, sehingga perlu dilakukan riset ilmiah
mengenai kompetensi para mubalig dalam menggunakannya. Hal ini perlu dikaji
secara ilmiah untuk mengungkap penyebab kurang berkembangnya unsur-unsur
teknologi dan sub-teknologi dalam organisasi Muhammadiyah di kota Ambon. Selain itu, perlu juga dikaji tentang media publikasi dakwah yang paling
efektif sehingga pesan-pesan dan nilai-nilai agama dapat memengaruhi perilaku
masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anggota Muhammadiyah di kota Ambon berjumlah kurang-lebih 1322 orang. Permasalahannya adalah
seberapa jauh Muhammadiyah bisa berperan
sebagai spirit pencerahan dalam kehidupan para anggotanya.
Kajian
ini akan menelaah dan
menyelidiki kompetensi mubalig Muhammadiyah dan fasilitas teknologi informasi yang digunakannya, khususnya sub-teknologi yang digunakan
dalam publikasi dakwah di kota Ambon. Pemilihan sub-teknologi dari teknologi informasi ini berdasarkan teori media McLuhan yang menyatakan bahwa media merupakan perpanjangan dari panca indra manusia.
Oleh karena itu, kompetensi mubalig Muhammadiyah dalam menggunakan media teknologi informasi
menarik untuk diteliti.
Dengan
menggunakan teknologi informasi dan komunikasi yang paling mutakhir, desain
publikasi informasi dakwah akan lebih efektif dan menarik. Teknologi informasi dan komunikasi juga memiliki daya jangkau yang lebih signifikan dalam penyampaian dakwah. Di antara
unsur-unsur penting dari teknologi informasi yang akan diteliti adalah infrastruktur
sub-teknologi seperti SDM mubalig, sub-teknologi software dan sub-teknologi
hardware, yang merupakan pilar teknologi informasi dakwah Muhammadiyah di
kota Ambon.
Secara umum, teknologi informasi
dakwah Muhammadiyah bisa dinilai berjalan dengan baik jika ia mampu beradaptasi dengan setting sosial
masyarakat multikultural, dan mampu menerapkan teknologi dakwah dengan mengacu pada pendekatan
komunikasi empatik, partisipatoris, dan memanfaatkan sumber daya ICT (Information
Communication Technology) serta strategi publikasi dakwah. Untuk
menelaah persoalan ini perlu digambarkan kondisi realitas masyarakat dan
teknologi informasi dakwah Muhammadiyah di
kota Ambon. Pada kenyataannya, gerakan dakwah Muhammadiyah dengan pelbagai problematika
sosial yang dihadapinya, tidak seimbang dengan kekuatan sub-teknologi informasi
dakwah Muhammadiyah di kota Ambon.
Di antara tantangan dakwah yang dihadapi Muhammadiyah di kota Ambon adalah
tidak seimbangnya antara luas wilayah dan infrastruktur media
yang dimiliki. Selain itu, jumlah
penduduk yang mencapai 332.000 jiwa juga merupakan tantangan tersendiri, di mana setiap individu membutuhkan
penyajian informasi dan eskpresi yang berbeda-beda. Kenyataan ini sejalan
dengan kajian Sattu Alang yang berjudul Kesehatan Jiwa. Pada bagian
pendahuluan, Sattu Alang menjelaskan bahwa dengan mencermati kondisi masyarakat melalui fenomena kehidupan
manusia, akan dijumpai model dan corak ekspresi yang tampak pada tepian lisan dan tepian perilaku. Ada yang kelihatan bergembira,
murung, pesimis, gelisah, bersedih hati, dan tidak cocok dengan orang lain. Fenomena ini kerap kali dipicu oleh
gesekan politik, isu, dan konflik, yang pada gilirannya menambah
lembaran permasalahan sosial
yang dihadapi manusia modern.
Permasalahan sosial ini kerap mengganggu interaksi sosial masyarakat dan menjadi tantangan berat bagi mubalig Muhammadiyah di kota Ambon. Selain itu, media pemerintah seperti TVRI (Televisi Republik Indonesia) tak mampu bersaing dengan media swasta-kapitalis, yang sering kali
menyampaikan berita-berita dan informasi yang dapat merusak karakter dan
perilaku masyarakat di kota
Ambon. Begitu pula dengan media cetak yang 80% kontennya bermuatan politik. Jika konstruksi informasi ini tidak
diimbangi dengan teknologi informasi dakwah yang handal, maka ia dapat menimbulkan
kerusakan moral dalam masyarakat, dan mengganggu ketenteraman sosial-keagamaan di
kota Ambon.
Jumlah penduduk dan angka pertumbuhan
penduduk di kota Ambon tidak sebanding dengan ketersediaan ekonomi dan
informasi agama yang bisa mengarahkan dan membentuk pola hidup masyarakat. Pada tahun 2010, jumlah penduduk di kota Ambon mencapai 284.809
jiwa. Pertumbuhan penduduk yang tidak dibarengi
dengan kesadaran beragama dapat menimbulkan berbagai problematika sosial.
Problematika
sosial ini bisa menambah angka pengangguran dan kemiskinan, menimbulkan
ketidakstabilan politik, kekacauan budaya, dan pudarnya nilai-nilai agama dalam
kehidupan bermasyarakat. Kondisi ini akan menciptakan
kesenjangan sosial, prejudice, stereotype, dan eksploitasi agama untuk memprovokasi
konflik, baik
konflik antar
agama, antar kelompok, antar etnis, dan menghidupkan
gerakan separatisme
RMS. Kesenjangan ini juga akan
menyebabkan maraknya
perbuatan makar, meningkatnya tindak kriminal, dan kecenderungan menyelesaikan
permasalahan dengan kekerasan fisik dan psikis. Hal ini dibahas
dalam laporan
BARESKRIM POLDA Maluku yang dilansir Harian Ambon Ekspres, yang menunjukkan
bahwa benturan fisik di kota Ambon meningkat. Benturan fisik akibat kesenjangan ekonomi yang tidak dikendalikan oleh kesadaran beragama telah menyebabkan terjadinya insiden Rohmoni (Mei
2004) antara Rohmoni dan Kailolo,(7); insiden Mamala dan Hitu (November 2006)
(8).[20] Benturan fisik yang terjadi pada tanggal
13 September 2001 juga dipicu
oleh publikasi informasi provokatif yang berakibat pembakaran rumah warga.
Selain itu, pembunuhan sesama warga
muslim yang terjadi di
Pelauw juga diakibatkan oleh perbedaan dalam penetapan awal bulan Syawal tahun 2011. Dalam peristiwa ini, 100
rumah warga dibakar. Menurut hemat penulis, semua ini diakibatkan oleh
lemahnya pemahaman keagamaan sebagai spirit pencerahan dalam memperbaiki
tatanan kehidupan ummat. Di samping itu, alih-alih menjadi media pendidikan,
media cetak di Ambon justru cenderung menjadi media provokasi. Kondisi ini
semakin diperparah oleh kenyataan bahwa sebagian besar mubalig Muhammadiyah
belum atau kurang mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi, khususnya komputer grafis, dalam mengolah pesan-pesan
dakwah, bahkan masih cenderung menuangkan materi-materi dakwah pada kertas
biasa (kwarto).
Sebagian besar mubalig Muhammadiyah belum memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan dakwah, khususnya fasilitas
digital seperti e-book, al-Quran digital, maktabah syamila, maktaba
qubro, dan sarana-sarana digital lainnya. Jika penggunaan fasilitas
teknologi
informasi masih kurang memadai, maka kompetensi mubalig Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah akan kurang
maksimal. Hal ini akan membuka jalan dan memudahkan dominasi informasi dari
dunia barat lewat internet, televisi, radio, dan media cetak. Akibatnya,
informasi negatif pun menguasai dan membentuk alam pikiran masyarakat di kota
Ambon. Atas dasar inilah diperlukan riset ilmiah untuk mengungkap sejauh mana
mubalig Muhammadiyah mampu memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan
aktivitas dakwah mereka. Penelitian
ini menyimpulkan bahwa dengan meningkatnya penggunaan teknologi
informasi dalam menyampaikan pesan-pesan agama, maka daya serap mad’u akan
meningkat pula.
A.
Rumusan Masalah dan
Batasan Masalah
Karena
luasnya cakupan permasalahan tersebut, maka kajian ini secara spesifik menelaah
penggunaan teknologi informasi oleh para mubalig Muhammadiyah di kota Ambon sebagai
perpanjangan panca indra. Agar batasan masalah tersebut lebih menukik, penulis membagi
rumusan masalah ke dalam dua
sub-masalah, yaitu:
1.
Bagaimana tingkat kompetensi mubalig Muhammadiyah di kota
Ambon?
2.
Bagaimana peran mubalig Muhammadiyah memanfaatkan teknologi
informasi di Ambon?